Update Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya Indonesia Versi Bos OJK Mahendra Siregar

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:40:34 WIB
Update Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya Indonesia Versi Bos OJK Mahendra Siregar

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menyampaikan evaluasi dan pandangan komprehensif terkait perkembangan perekonomian global terbaru menjelang 2026. 

Laporan OJK ini memberikan gambaran bagaimana ekonomi dunia bergerak, bagaimana respons kebijakan moneter di beberapa negara utama, serta bagaimana dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan sektor jasa keuangan di Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menekankan bahwa meskipun terdapat beberapa tantangan, tren perbaikan tetap terlihat di banyak aspek, terutama sektor manufaktur global dan kinerja ekonomi Amerika Serikat.

Mahendra menyampaikan pandangan ini dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025 pada Jumat. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan kesiapan OJK dalam memantau secara menyeluruh berbagai dinamika eksternal yang berpotensi memengaruhi stabilitas keuangan domestik serta arah pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun mendatang.

Gambaran Umum Ekonomi Global dari OJK

Dalam konferensi persnya, Mahendra Siregar menyebut bahwa perekonomian global secara umum menunjukkan perbaikan, meskipun kinerja ekonomi China berada di bawah ekspektasi. 

Berdasarkan rilis data perekonomian global, aktivitas manufaktur di seluruh dunia masih berada di zona ekspansi meskipun dengan laju yang lebih termoderasi dari periode sebelumnya. Keadaan ini mencerminkan adanya pemulihan yang masih berjalan perlahan dan penuh tantangan di berbagai wilayah utama dunia.

Mahendra menyampaikan pula bahwa lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 akan tetap melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi. 

Proyeksi ini dipengaruhi oleh meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama. Kondisi global seperti ini mendorong negara-negara untuk menyesuaikan kebijakan ekonomi mereka agar tetap responsif terhadap dinamika yang terjadi.

Performa Ekonomi Amerika Serikat dan Indikator Utama

Salah satu sorotan dalam paparan Mahendra adalah kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS). Menurutnya, perekonomian Negeri Paman Sam menunjukkan performa yang relatif solid.

Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal III/2025 tumbuh sebesar 4,3 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan bahkan di atas konsensus pasar, menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat di salah satu ekonomi terbesar dunia.

Namun, pasar tenaga kerja di AS menunjukkan tanda-tanda moderasi, sementara inflasi juga cenderung turun. Data menunjukkan bahwa inflasi umum di AS pada November 2025 turun ke level 2,7 persen, sedangkan inflasi inti turun ke 2,6 persen. 

Penurunan inflasi ini menunjukkan tekanan harga yang mulai mereda, namun masih harus dipantau karena merupakan indikator penting dalam kebijakan moneter bank sentral.

Perlambatan Ekonomi China dan Tantangan Domestik

Sementara AS menunjukkan indikator positif, kondisi ekonomi China menghadapi tantangan yang lebih besar. Mahendra mencatat bahwa perlambatan ekonomi masih berlanjut di Negeri Tirai Bambu, terutama karena konsumsi rumah tangga masih tertahan. 

Dari sisi penawaran, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur China kembali masuk ke zona kontraksi, menandakan aktivitas sektor industri menurun. Tekanan di sektor properti yang masih berlangsung turut memperberat kondisi ekonomi domestik China.

Perlambatan ini menjadi perhatian khusus karena China merupakan salah satu penggerak utama ekonomi global. Turunnya aktivitas manufaktur dan tantangan sektor properti dapat menimbulkan efek berantai terhadap permintaan komoditas dan sentimen investor internasional.

Respons Bank Sentral Terhadap Tantangan Ekonomi Dunia

Perbedaan kondisi di berbagai negara utama membuat bank sentral di dunia mengambil kebijakan yang berbeda. Mahendra menyebut bahwa sejumlah bank sentral kembali menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk meredam perlambatan ekonomi. 

Misalnya, Federal Reserve (bank sentral AS) memangkas Federal Fund Rate (FFR), sementara Bank of England juga menurunkan suku bunga acuannya pada Desember 2025 untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Namun, langkah kebijakan ini tidak seragam di seluruh dunia. Bank of Japan justru menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasawarsa terakhir karena tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang. 

Perbedaan arah kebijakan moneter ini turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global, termasuk pasar saham dan obligasi, yang bereaksi terhadap perubahan imbal hasil dan ekspektasi investor.

Dinamika Pasar Saham dan Obligasi Global

Mahendra juga menyoroti dampak kebijakan moneter terhadap dinamika pasar keuangan. Secara umum, pasar saham global bergerak menguat sebagai respons terhadap pemangkasan suku bunga acuan di beberapa negara. Penguatan ini mencerminkan optimisme investor bahwa stimulus moneter dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan global.

Namun, di satu sisi terdapat kekhawatiran terhadap potensi pembentukan gelembung harga di sektor saham teknologi yang sering menjadi pionir reli pasar saham global. 

Selain itu, kenaikan suku bunga di Jepang turut memicu pelemahan pasar obligasi pemerintah (sovereign bond), terutama saat praktik carry trade—dimana investor memanfaatkan perbedaan suku bunga negara—mulai berakhir karena penyesuaian kebijakan.

Perhatian pada Risiko Geopolitik dan Dampaknya

Selain dinamika ekonomi dan kebijakan moneter, Mahendra menyebut bahwa pelaku pasar pada awal 2026 juga memerhatikan perkembangan geopolitik, terutama di Venezuela. Perubahan situasi politik dan ekonomi di negara tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan global, terutama jika terjadi peningkatan ketidakpastian dan risiko spillover ke negara lain.

Geopolitik menjadi salah satu variabel yang makin diperhitungkan pelaku pasar dalam menentukan strategi investasi dan pengambilan keputusan ekonomi. Ketidakpastian geopolitik seringkali berdampak pada peningkatan volatilitas pasar dan pergeseran arus modal global.

Dampak Dinamika Global terhadap Ekonomi Domestik Indonesia

Di tengah kondisi global yang beragam tersebut, Mahendra memastikan bahwa perekonomian domestik Indonesia tetap menunjukkan tanda-tanda positif pada Desember 2025. Ia menyampaikan bahwa inflasi inti meningkat, sektor manufaktur masih ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus. 

Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki ketahanan untuk menghadapi tekanan eksternal sekaligus memanfaatkan peluang dari situasi global yang terus berkembang.

Ketahanan ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran OJK penting untuk terus memantau risiko-risiko eksternal dan internal serta memastikan sistem keuangan tetap tangguh di tengah dinamika global.

Dengan gambaran lengkap dari OJK, pelaku pasar dan pembuat kebijakan dapat memahami lanskap ekonomi global yang terus berubah serta menyiapkan langkah antisipatif demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Terkini